RomanceNews.id | Bengkulu — Di antara riuh ombak dan angin laut yang tak pernah lelah menyapu pesisir Kota Bengkulu, berdiri sebuah bangunan yang memelihara sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar benda: ia menjaga ingatan.
Tempat itu dikenal dengan nama B’Daru Balai Adat Rajo Penghulu, sebuah ruang budaya yang kini kian kokoh menjadi pusat pembelajaran sejarah, seni, dan jati diri masyarakat Bengkulu.
Berlokasi di kawasan Pantai Berkas, balai adat ini tak hanya menjadi pelengkap bentang wisata pesisir, tetapi telah menjelma menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin memahami Bengkulu lebih dalam, bukan dari cerita, melainkan dari jejak nyata yang masih tersisa.
Memasuki bangunan ini, pengunjung seolah melangkah ke lorong waktu. Di dalamnya tersimpan beragam peninggalan budaya: guci tua, katil pengantin adat, perlengkapan makan tradisional, perangkat sirih, hingga benda-benda rumah tangga yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Melayu Bengkulu.
Setiap benda berdiri dalam diam, tetapi membawa cerita panjang tentang kehidupan, nilai, dan cara pandang sebuah generasi.
Dari Kepedulian, Lahir Sebuah Rumah Budaya
B’Daru Balai Adat Rajo Penghulu bukanlah museum yang lahir dari proyek besar, melainkan dari kegelisahan seorang penjaga adat yang tak ingin warisan leluhur hilang begitu saja.
Adalah Junaidi Zul, pemilik sekaligus penggagas balai adat ini, yang dengan penuh kesadaran mulai mengumpulkan benda-benda bersejarah dari masyarakat. Baginya, setiap benda bukan sekadar barang lama, tetapi bagian dari identitas yang harus dijaga.
“Kami tidak ingin anak cucu nanti hanya mendengar cerita tanpa pernah melihat buktinya. Di sinilah mereka bisa mengenal langsung warisan leluhur mereka,” ujar Junaidi kepada RomanceNews.id, saat ditemui di ruang koleksi balai adat.
Ia menegaskan, B’Daru bukan dibangun untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai ruang bersama. “Balai adat ini adalah rumah budaya. Siapa pun boleh datang, belajar, dan memahami. Karena budaya bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk diwariskan,” katanya.

Menjadi Tujuan Belajar Generasi Muda
Sejak berdiri pada 2020, keberadaan B’Daru semakin dikenal luas. Balai adat ini kini rutin dikunjungi pelajar, mahasiswa, komunitas seni, hingga wisatawan yang ingin memahami sejarah Bengkulu dari sumber yang nyata.
Bukan hanya melihat, pengunjung juga diajak memahami makna di balik setiap koleksi. Radio lama mengajarkan tentang komunikasi masa lalu. Peralatan adat mengajarkan tentang tata krama. Dan benda-benda rumah tangga mengajarkan tentang kesederhanaan hidup masyarakat terdahulu.
B’Daru menjadi ruang belajar yang hidup, bukan sekadar ruang pamer.
Dari Pinggir Pantai, Menjaga Identitas Sebuah Daerah
Keberadaan B’Daru kini memiliki arti penting, bukan hanya bagi masyarakat sekitar, tetapi juga bagi Bengkulu secara keseluruhan. Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, balai adat ini berdiri sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus ingatan.
Justru dari tempat seperti inilah, generasi muda belajar memahami siapa mereka sebenarnya. Junaidi Zul berharap, ke depan B’Daru dapat terus berkembang dan menjadi pusat budaya yang lebih besar.
“Kami ingin tempat ini tetap hidup. Bukan hanya hari ini, tetapi sampai kapan pun. Karena selama balai adat ini ada, selama itu pula sejarah kita masih memiliki rumah,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Hari ini, B’Daru Balai Adat Rajo Penghulu bukan hanya sebuah tempat. Ia adalah penjaga waktu. Ia adalah saksi perjalanan. Dan ia adalah pengingat, bahwa Bengkulu bukan hanya tentang laut dan alamnya, tetapi juga tentang budaya yang membentuk jiwanya.
Di tepi Pantai Berkas, balai adat itu tetap berdiri. Tenang. Setia. Menunggu siapa pun yang ingin datang, untuk kembali mengenal asal-usulnya.
RomanceNews.Id_Rmsy












