Example floating
Example floating
InspirasiInternasionalNews

Diantara Puing Dan Harapan: Bupati BU Menyapa Luka Sumatera

×

Diantara Puing Dan Harapan: Bupati BU Menyapa Luka Sumatera

Sebarkan artikel ini

Romancenews.id-Langit Sumatera Barat belum juga benar-benar terang ketika rombongan kecil itu tiba. Awan kelabu menggantung rendah, seolah enggan pergi, menyisakan bau tanah basah yang bercampur getir sisa amarah banjir bandang yang belum sepenuhnya reda.

Di antara rumah-rumah yang runtuh, kayu-kayu patah, dan lumpur yang masih menempel di dinding kehidupan, Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, melangkah pelan. Setiap langkahnya seakan menimbang luka yang berserakan di hadapannya.

Ia tidak datang membawa sorak kegembiraan. Tidak pula hadir dengan pidato yang berjarak dan kaku. Ia datang membawa kehadiran, sesuatu yang kerap lebih dibutuhkan daripada kata-kata.

Kamis, 11 Desember 2025, menjadi penanda perjalanan kemanusiaan itu. Jarak ratusan kilometer antara Bengkulu Utara dan Sumatera Barat terasa luruh ketika empati menjadi alasan utama.

Di hadapan warga yang kehilangan rumah, sanak saudara, dan rasa aman yang direnggut dalam satu malam, Arie berdiri bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai manusia yang ikut menundukkan kepala di hadapan duka.

Satu per satu tangan warga ia salami. Ada tangan yang gemetar, ada yang dingin, ada pula yang menggenggam erat seolah takut kehilangan sandaran yang baru saja datang.

Tatapan mata yang sembab tak selalu meminta jawaban. Di antara puing dan sunyi yang menyesakkan, kehadiran menjelma menjadi bahasa paling jujur.

Kita harus bangkit. Kita tidak sendiri menghadapi cobaan ini,” ucapnya pelan, nyaris berbisik, namun sarat kekuatan.

Kalimat sederhana itu meluncur di tengah wajah-wajah letih yang berusaha bertahan. Di saat seperti ini, Arie paham betul: yang paling dibutuhkan bukan sekadar bantuan materi, melainkan keyakinan bahwa hidup masih bisa disambung kembali.

Ia menyampaikan duka yang mendalam atas musibah yang menimpa Sumatera Barat. Duka yang tidak berhenti pada rangkaian kata formal, tetapi hadir dalam langkah yang tertahan, dalam tatapan yang tak berpaling, dan dalam kesediaan mendengar kisah kehilangan yang disampaikan dengan suara bergetar.

Anak-anak duduk diam di sisi tenda pengungsian, memeluk tas kecil yang tersisa. Para orang tua berusaha tegar, menahan air mata di balik wajah yang menua lebih cepat. Sementara para lansia memandang kosong ke arah rumah yang kini hanya tinggal kenangan.

Di momen itulah bantuan diserahkan, beras dan logistik kebutuhan pokok. Tidak besar. Tidak pula ingin dihitung sebagai angka keberhasilan. Karena sesungguhnya, yang hendak ditegaskan bukan soal seberapa banyak yang dibawa, melainkan seberapa dalam rasa yang dibagi.

Kepedulian tidak diukur dari seberapa besar bantuan yang dibawa, melainkan dari keberanian untuk hadir dan merasakan duka bersama.

Di tengah bencana, yang paling berarti bukan jumlah yang diberikan, tetapi kepekaan untuk melihat, mendengar, dan berdiri di sisi mereka yang sedang kehilangan.

Ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwa kemanusiaan selalu dimulai dari empati.

Kata-kata itu terasa hidup di tengah reruntuhan. Bantuan hanya menjadi simbol, tetapi kehadiran menjelma makna. Bahwa Bengkulu Utara, meski terpisah wilayah, memilih untuk ikut memikul beban Sumatera Barat tanpa syarat, tanpa jarak, tanpa kepentingan.

Sebelum melangkah pergi, Arie kembali mengajak warga untuk terus berdoa dan saling menguatkan. Ia tahu, pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang roboh, tetapi juga menyembuhkan luka batin yang tertinggal dalam diam.

Bencana memang telah merenggut banyak hal. Rumah, kenangan, dan rasa aman. Namun di sela kehancuran itu, kehadiran seorang pemimpin yang mau datang, menempuh jarak, dan berdiri bersama rakyat di saat paling rapuh, menjadi cahaya kecil yang menyala di tengah gelap.

Perjalanan Bupati Arie Septia Adinata ke Sumatera Barat bukan sekadar agenda kunjungan, melainkan refleksi sunyi tentang kepedulian, kepekaan, dan kemanusiaan yang memilih untuk hadir.

Karena dalam bencana, yang paling dikenang bukan siapa yang memberi paling banyak, melainkan siapa yang datang, tinggal sejenak, dan membiarkan hatinya ikut terluka bersama mereka yang kehilangan.

Romancenew.id_Rmsy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *