Example floating
Example floating
InspirasiSeni dan Budaya

Jalan Sunyi Seniman Kriya Bengkulu, Rosi Spriyanto

×

Jalan Sunyi Seniman Kriya Bengkulu, Rosi Spriyanto

Sebarkan artikel ini

Romancenews.Id. Bengkulu-Di sebuah ruang kerja sederhana, serpihan kayu, botol cat, dan alat-alat kriya tersusun dalam keheningan yang akrab. Tak ada gemerlap. Tak ada kemewahan. Namun justru dari ruang itulah, tangan seorang pria bernama Rosi Spriyanto menyalakan kembali sesuatu yang pernah nyaris padam: harapan.

Bukan hanya harapannya sendiri, tetapi juga harapan bahwa luka hidup, betapapun dalamnya, tidak pernah benar-benar mampu mematikan jiwa yang memilih untuk tetap berkarya.

Hari ini, karya-karyanya dikenal luas. Miniatur kapal, Tabot, bunga rafflesia, hingga delman khas Bengkulu telah menjelma menjadi cendera mata bernilai seni tinggi. Karya itu menghiasi lobi hotel, ruang pertemuan perusahaan, kantor pemerintahan, hingga rumah para kolektor. Namun, keindahan itu lahir dari perjalanan panjang yang tidak semua orang sanggup melaluinya.

Ada masa ketika hidupnya nyaris kehilangan arah dan makna.

Tiga Tahun yang Mengubah Segalanya

Sebelum dikenal sebagai perajin kriya, Rosi adalah seorang pelukis. Seni bukan sekadar pekerjaan baginya, itu adalah cara ia bernapas, cara ia memaknai hidup.

Ia bekerja, berkarya, dan menghidupi keluarganya dengan penuh keyakinan bahwa masa depan bisa dibangun melalui ketekunan. Namun hidup, seperti waktu, tak selalu berjalan sesuai rencana.

Sebuah ujian datang dan mengubah segalanya. Tubuhnya lumpuh.

Selama tiga tahun, ia hidup dalam keterbatasan yang sunyi. Hari-hari terasa panjang, bukan karena kesibukan, tetapi karena ketidakberdayaan. Ia tak lagi mampu melakukan pekerjaan berat. Dunia yang dulu begitu dekat, kini terasa jauh.

Ada masa ketika ia hanya bisa diam, memandangi waktu yang berjalan tanpa kepastian. Bagi seorang seniman, kehilangan kemampuan untuk berkarya bukan hanya kehilangan penghasilan. Itu seperti kehilangan sebagian dari jiwanya.

Cinta yang Menolak Padam

Namun bahkan di titik terendah itu, ia tidak benar-benar sendiri. Di sisinya, ada istri dan anak yang setia bertahan. Mereka tidak banyak bicara, tetapi kehadiran mereka adalah kekuatan yang tak tergantikan.

Merekalah yang menjaga api itu tetap menyala. Dari cinta itulah, Rosi perlahan menemukan jalan pulang. Ia mulai kembali berkarya. Bukan melukis seperti dulu, tetapi mencipta dalam bentuk lain: kriya. Ia membentuk.

Ia merangkai. Ia menghidupkan kembali makna. Langkahnya kecil. Pelan. Bahkan nyaris tak terdengar. Namun justru dari langkah kecil itulah, hidupnya mulai bergerak kembali.

Diremehkan, Namun Waktu Membela

Perjalanan itu tidak dihiasi kemudahan. Karya-karya awalnya sering dihargai rendah. Dipandang sebelah mata. Dianggap sekadar kerajinan biasa. Namun Rosi tidak melawan dengan amarah.

Ia melawan dengan ketekunan. Ia memilih diam dan terus berkarya. Karena ia percaya, waktu tidak pernah mengkhianati kesungguhan. Dan waktu, akhirnya, membuktikan.

Rafflesia Bahari Miniatur Bengkulu

Rafflesia Bahari Miniatur Bengkulu: Dari Ruang Sederhana ke Pasar Nasional dan Mancanegara

Dari tangan dan keyakinannya, lahirlah sebuah identitas karya yang kini dikenal dengan nama Rafflesia Bahari Miniatur Bengkulu. Nama itu bukan sekadar label. Ia adalah simbol kebangkitan.

Di bawah nama itu, karya-karya miniatur Rosi menemukan jalannya ke berbagai tempat. Pesanan datang silih berganti. Dari perusahaan swasta. BUMN. Perhotelan. Instansi pemerintah. Tokoh masyarakat. Para kolektor seni. Baik di Bengkulu, luar daerah, bahkan hingga ke tangan tamu-tamu dari luar negeri yang terpikat oleh keunikan dan ruh budaya yang terkandung di dalamnya.

Banyak dari mereka bukan hanya membeli sekali. Tetapi kembali. Menjadi pelanggan tetap. Menjadi bagian dari perjalanan panjang itu.

Miniatur kapal, Tabot, bunga rafflesia, dan berbagai karya lainnya kini tidak hanya menjadi cendera mata, tetapi juga duta budaya, membawa nama Bengkulu melintasi batas wilayah.

Kemenangan yang Lahir dari Kesunyian

Kini, meski tubuhnya masih menyisakan keterbatasan, Rosi tidak lagi melihat itu sebagai akhir. Ia telah menemukan jalannya. Di setiap karya yang ia buat, ada bagian dari hidupnya yang ia titipkan.

Ada luka yang telah sembuh. Ada harapan yang pernah jatuh, lalu bangkit kembali. Ada cinta yang tidak pernah pergi. Berbagai penghargaan dan piagam telah ia terima. Namun bagi Rosi, itu bukanlah puncak.

“Yang paling penting, saya masih bisa berkarya,” ujarnya lirih. Kisah Rosi Spriyanto bukan sekadar kisah tentang seorang perajin. Ini adalah kisah tentang manusia yang menolak menyerah pada nasib.

Yang pernah jatuh dalam gelap, tetapi memilih berjalan menuju cahaya. Dan dari sebuah ruang sederhana di Bengkulu, melalui tangan yang pernah tak berdaya, ia membuktikan satu hal yang sering dilupakan banyak orang:

Bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu, untuk diciptakan kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *