RomanceNews.id. ACEH — Dari balik sambungan telepon yang terdengar lirih yang tertahan, seorang sahabat dari Aceh bercerita tentang kenyataan yang jauh lebih kelam dari apa yang terlihat di layar berita.
“Saudaraku… sampai hari ini Aceh belum benar-benar bangkit,” katanya, pelan, namun dengan kejujuran yang menampar nurani.
Banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera—dari Medan, Padang, hingga Aceh—meninggalkan luka yang tak hanya meluluhlantakkan tanah, tetapi juga merobek ketenangan jiwa para penyintas.
Di Aceh, dampaknya terasa jauh lebih pekat, seolah waktu ikut terhenti bersama aliran sungai yang berubah menjadi arus kematian.
18 Kabupaten/Kota Terdampak — Aceh Tamiang Paling Parah
Dari 18 kabupaten/kota di Aceh yang terpapar bencana, Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan kerusakan paling berat. Desa-desa terputus total, jembatan runtuh, dan akses bantuan terhambat oleh hamparan lumpur setinggi lutut.
Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, sebagian terpisah dari keluarga, dan banyak yang masih menunggu pertolongan di titik-titik pengungsian darurat.
Setelah Tamiang, duka menjalar ke Aceh Utara, Aceh Timur, Takengon, hingga sebagian Bireuen—wilayah-wilayah yang kini diselimuti aroma tanah basah, bambu patah, dan kesunyian yang panjang.
Di beberapa lokasi, evakuasi korban masih berjalan lambat, bahkan laporan warga menyebut masih ada jasad yang tertimbun material longsor dan belum dapat diangkat karena medan yang sulit dan cuaca yang tidak bersahabat.
“Kami Belum Pulih…” — Air Mata Gubernur Aceh yang Mengalirkan Jeritan Rakyatnya
Derita itu semakin terasa ketika Gubernur Aceh menyampaikan keterangan resmi terkait situasi terkini. Suaranya parau, matanya berkaca-kaca, mencoba menahan emosi yang tak lagi bisa dibendung.
“Kami belum pulih… Banyak wilayah masih menunggu bantuan. Banyak saudara kita masih menanti untuk ditemukan. Kami mohon doa dan dukungan semua pihak, jangan biarkan Aceh berjuang sendirian,” tuturnya, sebelum hening panjang menyelimuti ruangan konferensi pers.
Tangis seorang gubernur adalah tangis sebuah daerah.
Tangis yang menandakan bahwa luka yang ditinggalkan bencana ini bukan sekadar bencana alam biasa—tetapi tragedi kemanusiaan yang perlu dilihat lebih dekat, dirasakan lebih dalam.

Di Lapangan: Kesunyian, Lumpur, dan Doa yang Tak Pernah Usai
Di Aceh Tamiang, suara sirene sesekali terdengar memecah senyap, memanggil relawan menuju titik rawan.
Di Aceh Utara, relawan berjalan kaki menembus lumpur demi menjangkau desa yang terisolasi.
Di Aceh Timur, warga berbondong membuka jalan darurat dengan alat seadanya.
Di Takengon, dinginnya angin pegunungan menyergap para pengungsi yang tidur beralaskan terpal tipis.
Di Bireuen, air surut meninggalkan garis-garis kerusakan yang seperti torehan luka di tubuh bumi.
Anak-anak duduk memeluk selimut donasi, mata mereka menatap kosong. Para ibu berdoa sambil menahan air mata, sementara para ayah mencoba tegar meski kehilangan rumah, ladang, bahkan anggota keluarga.
Laporan yang datang dari lapangan bukan hanya kumpulan data, tetapi fragmen-fragmen kehidupan yang berubah dalam sekejap.
Dan dari balik setiap fragmen itu, ada bisikan yang sama: “Jangan Biarkan kami Sendiri.”
Aceh Masih Bertahan — Meski Langit Seakan Belum Mau Cerah
Meski langit masih sering menyimpan mendung, para relawan, TNI–Polri, dan masyarakat tetap bergandengan tangan. Mereka tahu, setiap menit sangat berarti untuk menyelamatkan satu nyawa lagi, menarik satu jasad lagi, membuka satu jalan lagi.
Aceh pernah berdiri dari luka yang jauh lebih dalam di masa lalu.
Dan kali ini, Aceh kembali berjuang—pelan, gemetar, tetapi dengan keberanian yang tak pernah padam.
Tragedi ini bukan sekadar berita.
Ini adalah seruan kemanusiaan.
Seruan agar kita tidak menutup mata.
Seruan agar empati tidak padam oleh jarak.
Karena di balik banjir bandang itu, terdapat harapan yang masih menyala kecil, menunggu disentuh oleh uluran tangan kita semua.













Semoga saudara saudara kita yang terkenal musibah d berii kuatkan ,ketabahan dalam menghadapi musibah ini