Example floating
Example floating
NewsSeni dan Budaya

Ngangkek Kayu Terendam: Menggugat Kebudayaan Yang Hilang

×

Ngangkek Kayu Terendam: Menggugat Kebudayaan Yang Hilang

Sebarkan artikel ini

Romancenews.id. Bengkulu — Di tengah sepinya pergelaran teater dan semakin jarangnya ruang ekspresi seni pertunjukan dihadirkan secara serius kepada publik, sebuah ikhtiar kebudayaan kini kembali dinyalakan.

Seniman teater sekaligus aktivis kebudayaan, NH. Yansah, mempersembahkan karya monolog bertajuk “Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam”, yang dipentaskan malam ini, 16 Desember, pukul 19.30 WIB hingga selesai, di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Bengkulu.

Pementasan ini bukan sekadar agenda seni, melainkan pernyataan sikap dan gerakan kultural. Sebuah upaya sadar untuk mengembalikan marwah teater sebagai ruang refleksi sosial, medium kesadaran kolektif, sekaligus bagian penting dalam pembangunan seni dan kebudayaan daerah, khususnya di Provinsi Bengkulu.

Melalui monolog ini, NH. Yansah mengangkat kegelisahan mendalam akan perlahan punahnya kebudayaan daerah, bukan karena ia mati, tetapi karena tenggelam oleh derasnya arus zaman.

“Ngangkek Kayu Terendam” menjadi metafora yang kuat: kebudayaan itu masih ada, masih hidup, namun terpendam dan menunggu untuk diangkat kembali ke permukaan melalui kesadaran bersama.

Karya ini menyuguhkan sebuah paradoks. Ia berbicara tentang amarah, namun bukan amarah yang liar dan destruktif. Amarah dalam monolog ini disublimkan, diolah menjadi energi kreatif yang lahir dari kritik terhadap sistem sosial, terutama perubahan nilai kebersamaan, budaya berkumpul, dan semangat berserikat yang kian terkikis oleh individualisme dan pragmatisme zaman.

Bagi pengkarya, monolog ini merupakan bagian dari upaya membangun energi dan semangat kolektif, menyalakan kembali insting agresif manusia ke arah yang produktif: sebagai daya dorong pemajuan kebudayaan daerah.

Baik secara personal maupun kelompok, teater diposisikan sebagai ruang strategis untuk memperkuat pondasi budaya, membangun kembali pola pikir yang mengakar pada rasa kebersamaan, serta menciptakan ekosistem kebudayaan yang inklusif, berkarakter, dan sehat.

Dalam pernyataannya, NH. Yansah menegaskan bahwa karya ini lahir dari proses bersama, bukan kerja individual semata.

“Monolog Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam lahir dari kegelisahan yang lama saya pendam, kegelisahan melihat kebudayaan kita perlahan tenggelam, bukan karena mati, tetapi karena dibiarkan diam. Seperti kayu yang terendam air, ia masih ada, masih bernyawa, hanya menunggu tangan-tangan yang mau mengangkatnya kembali,” ungkap Yansa.

Ia juga menekankan bahwa pementasan ini didukung oleh sejumlah rekan seniman lintas disiplin yang menjadi komponen penting dalam proses penciptaannya.

“Karya ini tumbuh dari percakapan, dari peluh, dari keyakinan. Kami percaya seni tidak boleh hanya hidup di ruang sunyi, tetapi harus hadir di tengah masyarakat, harus menyentuh, menggugah, dan mengingatkan siapa diri kita,” lanjutnya.

Menurut Yansah, amarah yang hadir dalam karya ini bukan untuk diluapkan, melainkan disublimasikan menjadi keberanian dan kesadaran budaya.

“Di atas panggung, amarah tidak saya ledakkan. Ia saya sublimasikan menjadi energi dan doa kebudayaan, amarah terhadap sistem sosial yang menjauhkan kita dari nilai berkumpul, berserikat, dan saling menjaga.

Teater bagi saya adalah ruang kejujuran, tempat kita bercermin, dan tempat kebudayaan itu dipertaruhkan.”

Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam Oleh : NH. Yansah

Profil Pengkarya

Yansa, yang memiliki nama asli Nadi Hariansyah, dikenal sebagai sutradara, penulis, dan aktor teater yang konsisten menjadikan panggung sebagai ruang refleksi sosial dan kebudayaan. Dalam perjalanan keseniannya, Yansa kerap menghadirkan karya-karya yang berpijak pada realitas masyarakat, kritik sosial, serta pergulatan identitas dan kebudayaan lokal.

Selain aktif berkarya di dunia teater, ia juga dikenal sebagai aktivis kebudayaan yang memandang seni sebagai medium strategis untuk membangun kesadaran, keberanian berpikir, dan tanggung jawab kolektif terhadap kebudayaan.

Yansa bersama para seniman lainnya mengajak masyarakat Bengkulu untuk hadir dan menyaksikan langsung pergelaran ini sebagai bagian dari rangkaian kebangkitan kebersamaan insan seni.

“Kehadiran publik bukan sekadar memenuhi bangku penonton, tetapi menjadi bagian dari denyut kebersamaan. Ini adalah energi bersama, semangat saling menguatkan antar insan seni untuk membangun kebudayaan di bidangnya masing-masing,” ujarnya.

Pementasan “Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam” diharapkan menjadi penanda bahwa seni, khususnya teater masih dan akan selalu relevan sebagai penjaga ingatan, pengikat identitas, dan pemantik kesadaran kolektif.

Malam ini, panggung teater bukan hanya milik seniman. Ia adalah ruang bersama, tempat kebudayaan dihidupkan kembali dengan keberanian, kejujuran, dan kebersamaan.

Romancenews.id_Rmsy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *