Bengkulu Utara — Pentas telah berakhir. Lampu sorot padam, musik terakhir mereda, dan gemuruh tepuk tangan menjadi penutup yang menyisakan haru di dada pengisi acara dan setiap undangan yang hadir.
Bengkulu Utara Expo bukan sekadar sebuah perhelatan, melainkan sebuah isyarat keras: bahwa seni, budaya, dan talenta lokal tidak boleh dibiarkan padam begitu saja.
Namun di balik panggung yang semarak, tersimpan cerita getir yang jarang terlihat mata publik. Helatan besar ini lahir dari hitungan yang serba terbatas, dari anggaran yang minim, hingga kesan “memaksakan” karena begitu banyak hal yang tak bisa terpenuhi. Para pelaksana teknis, inisiator, dan konseptor kegiatan ini harus menimbang setiap rupiah, memeras tenaga dan pikiran, bahkan mengorbankan waktu dan kenyamanan demi satu cita-cita: menghadirkan ruang bagi seni, budaya dan tradisi Bengkulu Utara agar tetap hidup.
Dan meski segala keterbatasan menekan, satu hal yang pasti: panggung ini harus ada. Karena tanpa itu, di mana lagi seniman bisa mengekspresikan diri? Di mana budayawan bisa menyalakan kembali obor tradisi yang mulai meredup? Di mana talenta muda bisa menguji bakat dan meniti mimpi? Ruang untuk pencarian bakat hampir tak pernah tersedia, festival seni begitu jarang dihadirkan, dan tradisi kita nyaris tenggelam jika tidak segera dirangsang untuk bangkit kembali.
Bagi para pelaku seni, tampil di sini bukan sekadar hiburan, melainkan perjuangan menjaga jati diri. Bagi UMKM, expo ini bukan hanya stan dagang, melainkan denyut ekonomi yang memberi secercah harapan.
Di tengah sorot mata beberapa penonton yang masih berat meninggalkan arena, Crew, pengisi acara dan segenap tim teknis yang sudah terasa begitu lelah sedikit memembuka senyumannya,
sementara disisi lain terdengar suara polos dari para juara festival. Dengan mata berkaca-kaca, mereka berkata lirih: “Kami bangga bisa tampil dan dipercaya, meski sering masih gugup, masih banyak kekurangan dan harus terus berlatih untuk jauh lebih baik kedepan, Kami ingin kegiatan seperti ini terus ada, supaya kami bisa maju, berkembang, dan tidak kehilangan arah.”
Kata-kata sederhana itu jujur, polos, dan menyayat hati. Bagi mereka, panggung ini bukan sekadar lomba, melainkan tangga pertama menuju mimpi. Tanpa ruang seperti ini, bakat mereka hanya akan terpendam, terkubur bersama rutinitas yang tak pernah memberi tempat bagi seni.
Tak hanya dari talenta muda, suara haru juga datang dari para pelaku budaya asli daerah. Dengan wajah bangga mereka berkata, “Puluhan tahun kami tak lagi merasakan bagaimana rasanya berdiri di panggung sebesar ini. Bahagia sekali kami bisa kembali mempersembahkan seni budaya yang hampir ditinggalkan. Rasanya seperti mendapat napas baru.” Pesan itu sederhana, tapi mengguncang rasa: betapa selama ini mereka menunggu ruang yang layak, dan ketika kesempatan datang, mereka menjawabnya dengan persembahan penuh kebanggaan.
Sementara itu, para seniman yang tergabung dalam sanggar, komunitas, hingga pelaku seni perorangan mengaku seolah menemukan kembali eksistensi diri. “Kami merasa kembali diakui. Ada tempat untuk kami menunjukkan kemampuan, untuk berkarya, untuk berdiri sejajar dengan kebanggaan,” ucap salah satu pelaku seni dengan suara bergetar. Kesan itu menjadi bukti, bahwa panggung Bengkulu Utara Expo telah menyalakan kembali api yang lama terpendam di dada para seniman.

Dalam suasana penuh haru itu, Mang Obot selaku penanggung jawab pelaksanaan kegiatan juga menyampaikan pesan yang menyentuh. Ia mengakui banyak kekurangan, banyak keterbatasan dan banyak hal yang terlewatkan, Dengan mata berkaca-kaca ia berkata :
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua komponen yang telah terlibat—para pelaku seni, budayawan, komunitas seni, sanggar budaya, kepala desa, para camat, hingga para pelaku ekonomi kreatif yang telah menuangkan pemikiran, tenaga, dan upaya terkhusus kepada Bapak Bupati Bengkulu Utara. Semua ini demi membangun atmosfer kebudayaan di tengah masyarakat melalui agenda expo ini.
Jika dalam perjalanan ada kekurangan dan kealfaan, itu sepenuhnya adalah bagian dari saya pribadi. Namun bila ada yang terasa berkesan dan lebih indah dari yang dibayangkan, itu adalah buah dari kebersamaan, ketulusan, dan dukungan semua pihak yang terlibat. Sungguh, sumbangsih pemikiran dan inisiatif yang diberikan telah memberi arti yang amat dalam bagi saya dan bagi kegiatan ini.
Saya sadar, jalan yang ditempuh tidaklah mudah. Ada perih, ada luka, bahkan ada kata-kata yang kadang menyakitkan. Namun biarlah semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang tidak perlu banyak diketahui orang. Yang lebih penting adalah cahaya kecil yang kita nyalakan bersama di panggung ini, semoga kelak menjadi api besar yang menerangi jalan kebudayaan daerah kita. Terima kasih, dan saya tak akan mampu membalas segala kebaikan yang telah diberikan, selain doa agar semua kebaikan itu kembali berlipat ganda kepada kita semua.”
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa latar belakang dirinya menjadi inisiator dalam kegiatan ini tak lain hanyalah satu: keinginan untuk mengangkat harkat dan martabat budaya yang telah lama kehilangan ruang dan tempat. Ia ingin alun-alun pusat kota Bengkulu Utara tidak sekadar menjadi ruang publik biasa, melainkan barometer bangkitnya peradaban budaya daerah. Tempat di mana pelaku seni mendapat panggung, masyarakat menikmati karya, dan generasi muda belajar tentang identitasnya.
Kini panggung memang kosong, tapi pesan yang tertinggal menggema: seni dan budaya adalah ruh daerah, dan ia butuh ruang yang lebih layak daripada sekadar panggung kecil yang sesekali dipaksakan hadir. Jika ruang ini tidak dijaga, jangan heran bila satu per satu talenta terbaik pergi mencari tempat di luar, dan budaya luhur kita semakin asing di tanahnya sendiri.
Dan akhirnya, doa serta harapan pun terucap: semoga ke depan, siapapun yang dipercaya menyelenggarakan acara di Bengkulu Utara ini tidak melupakan esensi besar ini—bahwa seni, budaya, dan talenta lokal adalah warisan yang harus diberi panggung, ruang, dan jembatan untuk mengasah diri. Karena mengangkat kembali seni budaya tradisi yang hampir hilang bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan tanggung jawab moral, amanah sejarah, dan warisan luhur yang wajib kita pelihara bersama.
Di balik semua cerita di atas, terbesit pula harapan untuk masa depan yang lebih baik. Semoga even ini bisa hadir kembali dengan kualitas yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih layak dalam memberi tempat bagi pelaku seni, budayawan, serta seluruh elemen kebudayaan. Bukan hanya budaya asli Bengkulu Utara, melainkan juga kekayaan budaya Nusantara yang hidup dan bernafas di kabupaten Bengkulu Utara ini.
Selesai sudah Bengkulu Utara Expo 2025. Sampai jumpa di Bengkulu Utara Expo tahun depan.
Romancenew.id/Rmsy











