Romansnews.id/Bengkulu Utara – Malam pergelaran Pentas seni Bengkulu Utara Expo 2025 terasa begitu magis saat sebuah karya tari kreasi berjudul “Petani dan Bidadari” dipentaskan untuk pertama kalinya.
Tarian ini terinspirasi dari kisah tentang seorang petani sederhana di masa lalu yang bertemu dengan bidadari dari kayangan, sebuah cerita rakyat yang sarat makna tentang kisah perjuangan, Kesetiaan, dan Harapan
Karya ini diciptakan oleh seniman tari asal Desa Sengkuang, Haryanto, yang juga merupakan penggiat Tari Rejang yang telah banyak mengukir prestasi di akhir tahun 90an. Dengan sentuhan tradisional dan modern, ia mengemas kisah rakyat menjadi tarian theatrikal penuh dramatika yang mampu mengharu biru penonton.
Tarian ini terinspirasi dari kisah zaman dahulu, dimana para petani yang kuat dan sabar menjalani kehidupan dengan segala kekurangan yang ada,
Di atas panggung utama Bengkulu Utara Expo, penari-penari cantik dari Sanggar Desa Sengkuang Kecamatan Tanjung Agung Palik tampil anggun dengan balutan busana khas, memerankan tokoh petani dan para bidadari. Gerak tubuh yang terjalin dengan koreografi indah, ditambah elemen theatrikal seperti ekspresi dramatik, musik pengiring yang menyentuh hati, menciptakan atmosfer pertunjukan yang megah, menarik sekaligus sarat dengan emosional.
Ratusan pengunjung terpukau, bahkan banyak yang tak mampu menahan haru ketika adegan penampilan petani muda dengan sang ayah. Tepuk tangan panjang menggema setelah tarian berakhir, menandakan keberhasilan karya tersebut menyentuh hati penonton.

Sinopsis Tarian
Kisah dimulai dengan sosok petani, yang dalam tarian ini mewakili gambaran masyarakat kecil. Ia digambarkan bekerja keras tanpa kenal lelah. Menebas, mencangkul, hingga menunggal—dalam istilah Rejang dikenal dengan Beto’ok. Gerakan penuh tenaga itu mencerminkan jerih payah yang terus dilakukan, meski hasil yang diharapkan tak kunjung tiba.
Benih yang ditanam tak berkembang. Panen yang dinanti tak kunjung datang. Usaha demi usaha hanya menghasilkan kekecewaan. Namun semangat si petani tidak padam. Dalam setiap gerakan, penonton bisa merasakan betapa berat perjuangan, namun juga betapa kuat daya juang.
Di tengah keputusasaan, masyarakat yang digambarkan lewat para penari lainnya berkumpul. Mereka bersepakat melaksanakan upacara adat dengan penuh khidmat, memohon restu kepada para sang Maha Pencipta agar tanah kembali subur, benih kembali hidup, dan panen menjadi berlimpah.
Adegan hadirnya bidadari-bidadari turun dari kayangan. Dengan gerakan anggun, mereka digambarkan membawa harapan dan berkah. Interaksi antara petani dan bidadari menjadi simbol hubungan manusia dengan alam semesta—kerja keras manusia harus berpadu dengan restu dan karunia Tuhan agar hasil dapat dinikmati.
Tarian ditutup dengan suasana gembira, melambangkan panen raya yang penuh berkah, simbol kebersamaan, serta kemenangan masyarakat atas perjuangan panjang yang penuh liku.
Penerimaan Penonton
Pertunjukan ini disajikan dengan sentuhan teatrikal yang dramatis. Perpaduan musik tradisi dan ekspresi para penari membuat suasana panggung begitu hidup. Tak sedikit penonton yang meneteskan air mata ketika menyaksikan perjuangan sang petani guna meraih keberkahan dan harapan.
Salah seorang penonton tarian tersebut, mengaku terhanyut dengan kisah tersebut.
“Rasanya seperti melihat kehidupan nyata orang tua kami dulu. Beratnya kerja di sawah, tetapi tetap ada harapan ketika semua dilakukan dengan doa dan kebersamaan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Haryanto, sang pencipta tarian, menyampaikan bahwa karyanya lahir dari refleksi kehidupan masyarakat desa.
Saya ingin masyarakat, khususnya generasi muda, tahu bahwa kisah-kisah sederhana dari masa lalu bisa dikemas menjadi seni yang bernilai tinggi. Petani dan Bidadari adalah wujud cinta saya pada budaya Bengkulu Utara,” Khususnya seni budaya Rejang singkat pernyataannya dengan mata berbinar dan sedikit menahan rasa emosionalnya,
ia juga menyampaikan bahwa dalam upaya melahirkan karya ini, ia berusaha mengumpulkan biaya pribadi dan juga dibantu oleh swadaya anggota guna memenuhi kebutuhan proferti dan busana tari dengan tertaih-tatih, tapi semangat yang berapi-api,
“Tarian ini saya tulis untuk menggambarkan perjuangan petani kita yang sering kali tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Tetapi saya ingin menekankan, semangat mereka tidak pernah padam, dan budaya doa bersama adalah bagian dari kekuatan itu,” jelasnya.
Sementara itu Romansyah Sabania, Ketua Dewan Kesenian Bengkulu Utara yang hadir menyaksikan penampilan tersebut berkomentar
Karya seni ini bukan hanya sekadar hiburan, “Petani dan Bidadari” menjadi refleksi kehidupan masyarakat bersama-sama untuk membangun Bengkulu Utara agar jauh lebih baik kedepan. karya ini mengajarkan kita bahwa kerja keras untuk terus Berjuang, berusaha, semangat pantang menyerah untuk terus berupaya, disertai dengan persatuan, kebersamaan dan gotong royong, terakhir adalah doa, agar keberhasilan segala usaha dan upaya tersebut dapat diraih.

“Tari Petani dan Bidadari menunjukkan kekayaan imajinasi budaya Bengkulu Utara. Kita patut bangga memiliki seniman-seniman yang mampu mengangkat kearifan lokal menjadi karya yang mempesona,” ujarnya.
Kehadiran tari kreasi “Petani dan Bidadari” menambah kekayaan ragam pentas seni dan pertunjukkan di Bengkulu Utara Expo 2025. Pelaksanaan kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam, membuktikan bahwa seni tradisional dan kreasi baru dapat berpadu untuk melahirkan karya yang abadi.
Romanncenews.id-Rmsy











