Example floating
Example floating
InspirasiNewsSeni dan Budaya

Rafflesia Bahari Miniatur: Seni Kriya Yang Menolak Menyerah!

×

Rafflesia Bahari Miniatur: Seni Kriya Yang Menolak Menyerah!

Sebarkan artikel ini

Romancenews.id. BENGKULU — Hidup tak selalu memberi ruang yang lapang bagi mimpi.

Bagi Rossi Sapriyanto, perjalanan menuju dunia seni justru ditempuh melalui lorong panjang penuh luka, jatuh-bangun, dan masa-masa ketika harapan nyaris padam. Namun dari keterpurukan itulah, seni kriya menemukan maknanya kembali, dan bukan sekadar sebagai karya, melainkan sebagai alasan untuk tetap bertahan hidup.

Lahir di Bengkulu pada 9 Oktober 1972, Rossi mengenal seni sejak usia sekolah dasar. Ketertarikannya tumbuh dari lingkungan keluarga, terutama dari sosok kakeknya, seorang pengrajin tradisional yang menekuni pembuatan gerobak, delman, wayang kulit, hingga gendang.

Rossi kecil kerap menyaksikan, bahkan sesekali membantu proses penciptaan benda-benda yang bukan hanya fungsional, tetapi juga sarat ruh kebudayaan dan bercirikhas daerah.

Dari sanalah benih seni itu bersemi. Seni tidak hadir sebagai pelajaran formal, melainkan diwariskan melalui pengalaman, sentuhan tangan, dan kebersamaan lintas generasi.

Memasuki usia dewasa, Rossi memulai perjalanan kreatifnya melalui seni lukis. Seiring waktu, ketertarikannya berkembang ke ranah seni kriya, sebuah wilayah lintas disiplin yang memadukan unsur lukisan, kerajinan tangan, dan produk UMKM berbasis budaya.

Awalnya, aktivitas ini sekadar hobi dan sekedar ruang pelarian dari rutinitas hidup. Namun perlahan, Rossi menyadari bahwa karya-karyanya menyimpan potensi yang lebih besar: nilai ekonomi sekaligus identitas daerah.

Dari kesadaran itulah lahir Rafflesia Bahari Miniatur, sebuah rumah gagasan yang berupaya menghadirkan Bengkulu dalam wujud cendera mata, miniatur, kriya, dan karya tangan yang memuat cerita tentang alam, laut, dan kekayaan budaya lokal.

Namun awal perjalanan Rossi tidak berjalan lurus. Ia sempat meninggalkan dunia seni. Menikah, bekerja di sebuah perusahaan, dan mencoba menjalani hidup “normal” sebagaimana kebanyakan orang. Hingga kenyataan pahit datang bertubi-tubi. Pada satu fase terberat dalam hidupnya, Rossi jatuh sakit dan mengalami kelumpuhan selama hampir tiga tahun.

Masa itu menjadi titik nadir. Tubuhnya tak lagi berdaya. Rasa tidak berguna menghantui hari-hari. Ia merasa gagal menunaikan peran sebagai kepala keluarga. Hidup seolah berhenti, tanpa arah dan tanpa pegangan.

Namun di tengah keterbatasan fisik, imajinasi justru kembali menyala.

Untuk mengusir jenuh sekaligus membantu proses pemulihan, Rossi mulai kembali berkarya. Aktivitas yang pernah ia tinggalkan kini menjadi terapi. Dari tangan yang nyaris menyerah, lahir karya-karya kecil, sederhana, namun penuh daya hidup. Dari sanalah harapan perlahan menemukan jalannya.

Memandang Bengkulu dengan kekayaan pantai dan keberagaman budayanya, Rossi mulai berpikir lebih jauh. Wisatawan yang datang tentu ingin membawa pulang sesuatu. Bukan sekadar barang, tetapi cerita tentang Bengkulu. Sebuah cendera mata yang merepresentasikan identitas daerah. Seni kriya kembali menemukan tujuannya.

Keraguan sempat datang. Apa yang harus dibuat? Siapa yang akan membeli? Adakah yang tertarik? Titik balik itu justru datang dari kalimat sederhana sang anak sulung:

“Pak, yang bapak buat ini banyak, tapi belum ada yang seperti bapak. Ini beda. Coba kita jual di pantai.”

Dengan keyakinan yang masih setengah-setengah, Rossi mulai menawarkan karyanya di kawasan pantai. Selama berhari-hari, orang hanya melihat dan berlalu. Tak satu pun terjual. Ia bahkan sempat terusir karena dianggap mengganggu. Rossi berpindah tempat, mencari ruang yang lebih aman, namun tetap sepi pembeli.

Yang membuatnya bertahan hanyalah dukungan keluarga. Istri dan anak-anaknya menjadi sandaran paling kokoh. “Kalau memang rezeki kita, tak akan ke mana,” ujar sang anak meyakinkan.

Hampir satu tahun penuh Rossi bertahan dalam ketidakpastian. Hingga perlahan, satu demi satu pintu terbuka. Karyanya mulai dilirik, dikenalkan kepada berbagai pihak, hingga akhirnya mendapat kesempatan terlibat dalam pameran dan expo. Dari sanalah perjalanan Rossi berubah. Karya-karyanya mulai dikenal, diminati, bahkan kerap habis diborong.

Sebagian karya seni kriya yang dihasilkan oleh Rafflesia Bahari Miniatur

Hari ini, Rossi terus berkarya, berinovasi, dan belajar dari setiap proses. Baginya, kesuksesan bukanlah hasil instan, melainkan buah dari kesabaran dan ketekunan.

Proses adalah guru terbaik,” ujarnya. “Karya bukan sekadar benda, tetapi nilai yang tak ternilai.”

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, komunitas, dan ruang promosi agar seni kriya dan produk UMKM budaya memiliki tempat yang layak di pasar, sekaligus menjadi penggerak ekonomi pariwisata dan kesejahteraan masyarakat.

Kini, Rafflesia Bahari Miniatur bukan sekadar rumah produksi. Ia adalah simbol keteguhan seorang seniman yang bangkit dari lumpuh, dari putus asa, dan dari keterasingan untuk kembali berdiri melalui seni.

Dari Bengkulu, kisah itu terus hidup. Dalam setiap miniatur, setiap sentuhan tangan, dan setiap harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Profil Singkat

Nama : Rossi Sapriyanto
Lahir : Bengkulu, 9 Oktober 1972
Bidang : Seni Kriya, Perupa
Nama Rumah Produksi/Galeri : Rafflesia Bahari Miniatur

Alamat
Jalan Perumahan Pinang Mas
Jl. Tanggul No. 176
Kelurahan Bentiring Permai
Kecamatan Muara Bangkahulu, Bengkulu

Kontak
📞 0813-6920-5499
📧 rossisapriyanto46@gmail.com

Media Sosial
Facebook : Rossi Sapriyanto
Instagram : @sami_maon
TikTok : @podowae

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *