Example floating
Example floating
NewsSeni dan Budaya

“Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam” Succes dan Menggetarkan!

×

“Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam” Succes dan Menggetarkan!

Sebarkan artikel ini

“Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam” Panggung Kegelisahan yang Menyalakan Harapan Kebudayaan

Romancenews.id. Bengkulu — Monolog “Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam” karya seniman teater NH. Yansa tidak sekadar berakhir dengan tepuk tangan panjang. Ia meninggalkan getar yang lama tinggal di dada penonton.

Malam itu, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Bengkulu menjelma menjadi ruang pengakuan kolektif, tempat dimana kegelisahan diucapkan dengan jujur, dan harapan kebudayaan dinyalakan kembali.

Dengan gaya monolog yang intens, lirih sekaligus menghantam, Yansa menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya ditonton, tetapi dirasakan. Setiap kata mengalir sebagai luka yang diakui, doa yang dipanjatkan, dan perlawanan sunyi atas zaman yang perlahan mengikis kebudayaan.

Bahasa dialek yang kental dengan warna kedaerahan menjadi kekuatan utama, menghadirkan kejujuran, kedekatan, serta identitas lokal yang selama ini terpinggirkan. Tata panggung yang sederhana namun kuat berpadu dengan gestur tubuh dan ritme suara, menjadikan panggung sebagai ruang kejujuran yang nyaris telanjang.

Di atas panggung, Yansa membuka satu per satu kegelisahannya atas realitas yang dihadapi pelaku seni dan komunitas budaya di daerah: ruang ekspresi yang kian sempit, ekosistem kebudayaan yang rapuh, hingga renggangnya ikatan sosial antar komunitas seni. Semua itu tidak disampaikan sebagai keluhan, melainkan diolah menjadi bahasa artistik yang menghantam kesadaran penonton.

“Ini bukan tentang saya di atas panggung,” ujar Yansa usai pementasan. “Ini tentang kegelisahan kolektif kita. Tentang betapa seringnya kita berjalan sendiri-sendiri, padahal kebudayaan hanya bisa hidup jika dirawat bersama.”

Pementasan tersebut disaksikan oleh pelaku budaya lintas bidang diantaranya teater, film, musik, sastra, seni rupa, mahasiswa, praktisi seni, dan masyarakat umum.

Ruang pertunjukan dipenuhi oleh beragam elemen, menciptakan suasana hangat dan hidup, seolah menjadi penanda bahwa kerinduan akan ruang kebudayaan bersama masih nyata dan kuat di Bengkulu.

Salah satu penonton, Edi Prayitno, pelaku budaya di bidang film, mengaku pertunjukan tersebut menyentuh lapisan emosi terdalamnya.

“Saya menonton dengan dada sesak. Bukan karena sedih semata, tetapi karena apa yang disampaikan terasa sangat dekat dengan realitas kami. Ini bukan sekadar pertunjukan, ini cermin. Dan bercermin sering kali menyakitkan, tetapi perlu,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Hadir pula Kepala Taman Budaya Bengkulu serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu–Lampung sebagai pendukung pendanaan dan fasilitator kegiatan. Dukungan tersebut dinilai sebagai wujud kehadiran negara dalam menjaga denyut kebudayaan daerah.

“Kami melihat karya ini sebagai suara yang jujur dari daerah. Negara tidak boleh hadir hanya secara administratif, tetapi juga secara empatik, mendengar, memahami, dan memberi ruang agar ekspresi budaya tumbuh sehat di tengah masyarakat,” ujar perwakilan BPK Wilayah VII.

Sementara itu, Dewan Kesenian Bengkulu Utara menilai pementasan ini sebagai representasi kegelisahan kolektif yang selama ini dirasakan para pelaku seni di daerah. Ketua Dewan Kesenian menegaskan bahwa “Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam” bukan sekadar pementasan, melainkan penanda kebangkitan.

“Karya ini adalah bara. Bara yang lama tersimpan, dan malam ini mulai menyala. Teater yang jarang, bahkan lama tidak lagi hadir di ruang kebudayaan, kembali menemukan napasnya. Ini sinyal bahwa seni teater belum mati, ia hanya menunggu momentum dan keberanian untuk dihidupkan kembali,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa pementasan ini tidak hanya berbicara tentang metafora ngangkek kayu terendam, tetapi juga tentang peran strategis seniman sebagai pionir pembangunan daerah.

“Seni tidak berdiri sendiri. Seniman berperan membangun sumber daya manusia yang berkarakter, menggerakkan ekonomi kreatif, menumbuhkan UMKM berbasis budaya, hingga menguatkan pariwisata. Ketika kebudayaan hidup, ekonomi masyarakat bergerak. Dan ketika masyarakat terlibat, ekonomi budaya akan tumbuh,” ujarnya.

Pelaku budaya sekaligus aktivis kebudayaan senior, Sukri Ramzan, turut memberikan apresiasi atas keberanian Yansa menghadirkan karya yang jujur dan berpihak pada kebudayaan daerah.

“Kegiatan seperti ini adalah energi. Kebudayaan tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus terus digerakkan melalui aktivitas, kolaborasi lintas generasi, dan keberanian untuk bersuara,” katanya.

Dalam monolognya, Yansa juga menyinggung dilema masyarakat dalam mempertahankan tradisi, termasuk adat dan budaya pernikahan yang perlahan tergerus oleh modernitas dan pragmatisme zaman.

“Banyak masyarakat sebenarnya rindu pada tradisi, tetapi terjebak di antara menjaga nilai atau mengikuti arus. Kegelisahan itulah yang saya bawa ke atas panggung,” tuturnya.

Menutup rangkaian pementasan, Yansa menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dan hadir sebagai bagian dari peristiwa kebudayaan tersebut.

“Saya berterima kasih kepada seluruh pendukung, rekan kolaborator lintas disiplin, lembaga pendukung, serta semua undangan dan penonton yang hadir. Dukungan ini adalah energi bersama. Ini bukan tentang satu karya, tetapi tentang langkah kolektif membangun pemajuan kebudayaan di daerah hari ini, esok, dan masa yang akan datang,” ucapnya.

Malam itu, panggung teater benar-benar hidup. Ia menjadi saksi bahwa seni masih memiliki daya, menggugah, mengikat ingatan, dan menyalakan kembali api kebudayaan yang nyaris tenggelam, namun tak pernah benar-benar mati.

“Sublimasi Ngangkek Kayu Terendam” pun berdiri sebagai lebih dari sekadar pertunjukan seni: ia adalah seruan sunyi namun tegas, bahwa kebudayaan adalah kerja bersama, dan masa depannya hanya dapat dibangun melalui keberanian, kebersamaan, dan kesadaran kolektif.

Romancenews.id Rmsy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *